Meluruskan Fatwa Hari Kiamat

Home / Opini / Meluruskan Fatwa Hari Kiamat
Meluruskan Fatwa Hari Kiamat Zulfan Syahansyah (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESBATU, MALANGISU tentang ajaran agama di kabupaten Malang kembali jadi sorotan. Topiknya kali ini seputar "Fatwa Hari Kiamat" yang sumbernya dari satu pesantren di daerah Kasembon. Pemberitaan ini menyita perhatian banyak kalangan. Utamanya tokoh agama bersama aparat setempat. Kekhawatiran sebagai ajaran sesat menjadi alasan pengurus NU dan MUI Kasembon mendatangi langsung lokasi sumber fatwa.

Dari hasil wawancara, tidak dijumpai ajaran menyimpang dari "Fatwa Hari Kiamat" tersebut.   Isi fatwa (penulis lebih melihatnya sebagai satu ajaran atau pemahaman) Hari Kiamat yang menghebohkan itu berlandaskan ajaran Islam sebagaimana umumnya.

Satu hal yang menjadi masalah adalah: kenapa para pengikut ajaran ini sedemikian takutnya hingga -menurut kabar- mereka hijrah bersama sanak famili meninggalkan kampung halaman untuk berkumpul dengan sang guru yang mengatakan ajaran ini?!

Pertanyaannya kemudian: Benarkah Hari Kiamat merupakan hari yang sangat menakutkan, hingga membenarkan apa yang dilakukan oleh para pengikut ajaran tersebut?

Takut pada Hari Kiamat, wajar. Tapi bukan takut yang berlebihan. Penulis menilai, isi fatwa tentang Hari Kiamat itu syarat dengan ajaran yang menakutkan (Tarhib). Dan tidak ada sisi ajaran yang menggembirakan (Targhib). Penfatwa Hari Kiamat ini mungkin lupa, bahwa ajaran Islam itu berisikan Targhib dan Tarhib. Termasuk juga dalam memahami Hari Kiamat. 

Bagaimana memahami aspek Targhib (hal yang menggembirakan) dalam memahami Hari Kiamat? Catatan berikut bisa menjadi jawaban seputar nilai positif dari ajaran Hari Kiamat.

Hari Kiamat adalah hari yang paling mulia, paling indah, paling nikmat dan juga menjadi hari yang paling sempurna.

Hari Kiamat merupakan hari kasih sayang alam semesta. Pada hari itu akan nampak semua kasih sayang berkeliptan seratus kali jika dibandingkan dengan kasih sayang yang ada di bumi.

Allah berfirman:

{الملك يومئذ الحق للرحمن} (الفرقان: 26)

"Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pengasih"

Rasulullah bersabda:

{إن لله مائة رحمة}

"Sesungguhnya Allah memiliki seratus kasih sayang"

{كتب ربكم على نفسه الرحمة ليجمعنكم يوم القيامة}

"Allah telah mengharuskan Dzat-Nya untuk mengumpulkan kalian semua ketika Hari Qiyamat nanti"

{إن الله كتب على نفسه كتابا فهو عنده فوق العرش}

"Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas Dzat-Nya satu kewajiban yang ada bersama-Nya di arsy"

{رحمتي سبقت غضبي}

"Rahmat-Ku melanpaui kemurkaan-Ku"

{ورحمتي وسعت كل شيئ}

"Dan rahmat-Ku melampaui segala sesuatu"

Dan karena adzab juga siksaan itu termasuk sesuatu, maka pastinya kasih sayang Allah pun mengalahkan adzab-Nya.

Allah berfirman:

{إني أخاف أن يمسك عذاب الرحمن}

"Aku takut kamu akan terkena siksaan Yang Maha Pengasih"

Maka saling berkasih sayanglah, niscaya kalian akan dirahmati Allah.

{الراحمون يرحمهم الرحمن}

"Orang-orang yang berkasih sayang akan dikasihi oleh Yang Maha Kasih"

 

* Penulis adalah Zulfan Syahansyah Dosen Aswaja Pascasarjana UNIRA Malang

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com