Ujian Doktor UMM, Muhammad Syafi'i Angkat Pengembangan Model Discovery Learning

Home / News Commerce / Ujian Doktor UMM, Muhammad Syafi'i Angkat Pengembangan Model Discovery Learning
Ujian Doktor UMM, Muhammad Syafi'i Angkat Pengembangan Model Discovery Learning Muhammad Syafi'i, Mahasiswa Program Doktor PAI Universitas Muhammadiyah Malang.

TIMESBATU, MALANGMuhammad Syafi’i, salah satu mahasiswa Program Beasiswa 5.000 Doktor yang menjalani studi di Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses melewati Ujian Promosi Doktor pada Senin 13 Juli 2020.

Syafi'i mengangkat topik disertasi dengan judul “Pengembangan Model Discovery Learning Dan Implementasinya Dalam Pembelajaran Mikro Bebasis Lesson Study” dengan mencontohkan studi kasus pada program studi Pendidikan Agama Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum Jombang.

Apa itu Discovery learning? Syafi'i menjelaskan, discovery learning merupakan salah satu model pembelajaran yang memiliki sintaks atau tahapan pembelajaran. Yaitu stimulation, problem statement, data collection, data processing, verification, generalization.

Masing-masing sintaks berimplikasi pada motivasi belajar, aktivitas belajar dan hasil belajar. Model pembelajaran ini direkomendasikan penerapannya pada pembelajaran yang didasarkan atas beberapa fakta dari hasil penelitian terdahulu yang menjadi keunggulannya. Di antaranya adalah adanya dorongan untuk belajar secara mandiri untuk berpikir aktif dalam menemukan sesuatu, adanya saling kerjasama dan keaktifan peserta didik untuk mengeluarkan gagasan dalam menguatkan konsep yang ditemukan.

Model discovery learning memiliki banyak keunggulan, di antaranya adalah merangsang motivasi internal dan keaktifan untuk belajar, pengetahuan yang telah diperoleh akan mendalam dan tidak mudah dilupakan, semangat penyelidikan dan keterampilan memecahkan masalah akan dipelihara dan ditingkatkan, memicu potensi kreativitas dan kecerdasan peserta didik.

Syafi’i menuliskan pada disertasinya bahwa penerapan konsep discovery learning tidak berhenti dengan keunggulan-keunggulan yang ada. Namun, terdapat juga kelemahan model tersebut dalam penerapannya. Seperti model tersebut mengharuskan peserta didik memiliki kekuatan sentripetal positif yang tidak dimiliki oleh semua peserta didik.

Kedua membutuhkan waktu lebih lama dari pada metode pengajaran tradisional. Ketiga, discovery learning menuntut guru atau dosen untuk menguasai materi dan fleksibilitas masalah dalam kelas.

Discovery learning dikenal juga dengan istilah instruksional kognitif dimana pembelajaran dengan penerapan model tersebut memiliki sasaran kompetensi yang terfokus pada proses pencapaian kemampuan kognitif. Syafi’i mengungkapkan model tersebut memiliki keterbatasan-keterbatasan pada pencapaian kemampuan ranah psikomotorik dan afektif.

Berdasarkan keunggulan dan kelemahan penerapan konsep discovery lerning, maka dibutuhkan pengembangan model dengan sistematika prosedur tertentu yang menyempurnakan konsep lama sehingga dapat diterapkan dalam pembelajaran dengan menyeimbangkan pancapaian ranah-ranah kompetensi. 

Keunggan dan Kekurangan Model Discover Learning

Berdasarkan data yang diperoleh tentang kondisi awal model discovery learning yang diterapkan pada program studi PAI Unipdu dalam kegiatan perkuliahan, menunjukkan bahwa model yang diterapkan dosen dalam kegiatan perkuliahan secara garis besar telah memenuhi substansi prosedur model discovery learning. Yakni adanya upaya pelibatan mahasiswa agar berinteraksi dengan sumber belajar sehingga terjadi proses belajar yang aktif dan induktif, namun terdapat kendala yang menjadi kelemahan konsep discovery learning dan keunggulan yang dirasakan para dosen pada saat menerapkan model tersebut.

Keunggulan yang dirasakan oleh dosen dalam menerapkan model tersebut adalah pertama mendorong mahasiswa untuk berinteraksi dengan objek yang dikaji sehingga muncul pengalaman baru yang nilainya lebih kuat dari pada penyampaian secara deduktif.

Kedua mahasiswa lebih aktif dan percaya diri dengan pemahaman yang dicapai karena pencapaian tersebut diperoleh melalui proses usahanya sendiri. Ketiga keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran dapat menumbuhkan sikap ulet, rasa ingin tahu, optimis dan kemandirian untuk berusaha. 

Di sisi lain mahasiswa yang juga dosen di UNIPDU ini juga mengemukakan kelemahan yang dirasakan oleh dosen adalah pertama model tersebut kurang tepat diterapkan pada pencapaian ranah psikomotorik dalam pembelajaran. Kedua konsep yang terdapat pada model tersebut lebih menekankan pada aspek kognitif.

Ketiga durasi waktu yang dibutuhkan untuk menerapkan model tersebut relatif cukup panjang karena memerlukan proses berpikir untuk menemukan pemecahan masalah terhadap bahasan pada materi yang diajarkan.

Keempat mahasiswa tidak akan bisa aktif dan kurang memberikan respon, jika tidak diawali dengan kegiatan yang bisa memicu dan memacu ketertarikan mahasiswa terhadap objek yang dipelajari. Keunggulan dan kelemahan inilah yang menjadi dasar pertimbangan dalam pengembangan konsep discovery learning. 

Implikasi dan Kajian Teoritik

Dalam presentasinya Muhammad Syafi'i menjelaskan adapun pengembangan konsep dalam kajian awal tentang substansi model dengan melibatkan teori Brunner, Thorndike dan Kolb.  Sehingga melahirkan konsep inductive discovery learning yang mencakup fase stimulasi, eksplorasi, asosiasi, konseptualisasi dan eksperimentasi yang dapat diterapkan dalam pembelajaran untuk mencapai kompetensi ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik

Ada beberapa tahapan yang membedakan antara konsep sebelum dikembangkan dan konsep sesudah dikembangkan. Konsep discovery learning sebelum dikembangkan memiliki enam tahapan kegiatan dalam prosedur pembelajaran. Yakni stimulation (pemberian rangsangan), problem statement (identifikasi masalah), data collection (pengumpulan data), data processing (pengolahan data), verification (pembuktian) dan generalization (penarikan kesimpulan).

Konsep discovery learning lebih menekankan pada aspek kognitif sedangkan inductive discovery learning lebih luas menekankan proses penemuan atau pencapaian pengalaman, kemampuan yang dapat digunakan pada ranah kognitif, psikomotorik dan afektif.  

Tahapan berikutnya di mana stimulasi pada inductive discovery learning merupakan penyatuan dari tahap stimulation dan problem statement, dimana tahap tersebut merupakan tahap pemberian rangsangan kepada peserta didik agar berinteraksi dengan berpikir, bergerak untuk memahami objek.

Tahap eksplorasi memiliki kesamaan dengan tahap data collection (pengumpulan data) pada model discovery learning, namun tahap eksplorasi lebih dikembangkan dengan menekankan pada proses pengalaman, pencarian, penemuan kebenaran secara aktif berdasarkan petunjuk pada tahap stimulasi.

Tahap asosiasi sebagaimana dengan tahap data processing (pengolahan data) pada model discovery learning, tidak hanya mengolah data yang didapat, tetapi berusaha agar hasil pengumpulan, pencarian, menjadi ide atau gagasan, kemampuan dan pengalaman yang benar. 

Berikutnya Syafi’i menjabarkan tentang tahap konseptualisasi memiliki kesamaan dengan tahap verification (pembuktian) dan generalization (penarikan kesimpulan). Letak persamaannya adalah pada proses penemuan (konsep), namun tahap tersebut lebih dikembangkan lagi dengan membuat kontruksi pengetahuan, keterampilan dan pengalaman baru. 

Artinya proses tersebut merupakan tahap dimana peserta didik berusaha menemukan dan membuat kontruksi pengetahuan, keterampilan dan pengalaman baru dalam kegiatan pembelajaran. Tahap eksperimentasi merupakan Proses mengemukakan pengetahuan, mendemonstrasikan keterampilan  dan menampilkan pengalaman yang telah ditemukan.

Tahap ini bisa dikategorikan sebagai penguatan setelah proses verification (pembuktian) dan generalization (penarikan kesimpulan) terhadap kemampuan yang tidak dibatasi pada ranah kognitif tapi juga keterampilan dan sikap. 

Mengutip penjabaran “Berdasarkan hasil data penerapan pengembangan model (inductive discovery learning) pada mata kuliah micro teaching berbasis lesson study yang telah saya analisa, terdapat tiga indikator keberhasilan, yaitu aktivitas, hasil belajar dan respon dimana secara akumulatif ketiga indikator tersebut dinilai telah berhasil jika dibandingkan dengan model sebelum pengembangan sebagaimana penelitian terdahulu yang hanya menghasilkan peningkatan kemampuan ranah kognitif,” ungkap Muhammad Syafi’i. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com