Menjaga Perkataan

Home / Kopi TIMES / Menjaga Perkataan
Menjaga Perkataan Rochmat Wahab, Yogyakarta. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESBATU, YOGYAKARTA – Perkataan merupakan salah satu indikator penting hidupnya manusia. Perkataan ada yang baik, ada yang tidak baik. Perkataan ada yang menyenangkan, ada  yang tidak menyenangkan. Perkataan ada mudah dipahami, ada yang sulit dipahami.

Perkataan  yang menguntungkan, ada yang merugikan. Agar perkataan itu bisa menyelamatkan manusia, maka setiap perkataan harus dijaga dengan sebaik-baiknya.

Ada sejumlah kata bijak dan hadits yang patut kita renungi dan ambil hikmahnya dalam menjaga perkataan kita. Pertama, penjagaan lisan. “salaamatul insaani fii hifdzil lisaani”, artinya “Keselamatan manusia itu ada pada penjagaan lidahnya (perkataannya)”.

Untuk bisa selamat dalam kehidupan kita, maka kita harus menjaga lisan kita dari isi dan cara pembicaraan. Bagaimana isi pembicaraan itu bisa bermanfaat atau merugikan orang lain.

Demikian juga bagaimana perkataan kita menyenangkan atau menyakiti orang lain. Mahfudhot lainnya mengatakan bahwa ‘Atsratul qadami aslamu min ‘atsratul lisaani.

Tergelincirnya kaki itu lebih selamat daripada tergelincirnya lidah. Betapa kita harus vergati-hati dalam barbicara, agar kita selamat. 

Kedua, kesantunan ucapan, “man ‘adzuba lisaanuhu katsura ikhwaanuhu”, artinya “barang siapa yang manis tutur katanya banyak sahabatnya”.

Setiap apa yang kita utarakan harus bisa membuat orang lain senang dan terpaku. Bila kita memulih kata dan mampu merangkai kata berupa kalimat dan cerita yang menangkan, maka akan memikat hati banyak orang. Pada kondisi inilah, jumlah sahabat atau fan dari hari ke hari pasti semakin banyak. 

Ketiga, ketawadluan, “idzaa tammal ‘aqlu, qallal kalaamu”, artinya “jika sempurna akal seseorang maka sedikit bicaranya.” Orang yang semakin pintar atau pandai, biasanya semakin merendah dan tawadlu’, karena semakin tahu bahwa ilmu yang dimiliki tidak ada apa-apanya di mata Allah swt.

Dengan kesadaran seperti ini, maka mereka lebih berhati-hati dalam berbicara, sehingga semakin sedikit ucapannya. Bahkan diperkuat dengan peribahasa, “Air beriak tanda tak dalam” yang dilengkapi dengan “Air tenang menghanyutkan”.

Keempat, kemampuan berkata benar “falyaqul khairan au liyashmut”, artinya”Bicaralah yang benar, atau berdiamlah”(HR, Bukhary dan Muslim). Kita sebagai ummat Islam, dianjurkan terus bisa berda’wah untuk menguatkan iman dan islam kita. Karena tidak sempurna iman kita jika kita tidak melakukan dakwah walau satu ayat.(ballighuu ‘anni wale aayah).

Karena itu, kita dalam berucap dan berdakwah harus lebih utamakan yang haq yang berdasarkan dalil naqli (As Sunnah atau Al Kitaab). Jika yakin betul tidak bisa ucapkan yang benar secara naqliyyah, maka lebih baik diam. Dengan begitu lebih aman dan menyelamatkan.

Kelima, berbicara  kontekstual, “Likulli maqaamin maqaalun walikkulli maqaalin maqaamun, artinya: Tiap-tiap tempat ada kata-katanya yang tepat, dan pada setiap kata ada tempatnya yang tepat.

Ini mengingatkan kita bahwa kita dalam berbicara harus bisa membawa diri dan menyesuaikan dimana kita berada, dengan siapa kita bicara, dan dalam suasana kita berbicara. Apakah kita berbicara dalam forum formal atau informal.

Bila kita bisa bicara sesuai dengan setting dan konteksnya, insya Allah perkataan kita memiliki efektivitas tinggi. Jika sebaliknya, diduga bisa timbulkan masalah.

Keenam, keberanian bicara benar, “qulil haqqa walau kaana murran”, artinya “katakanlah yang benar, walau pahit rasanya”. Dalam situasi apapun harus ada keberanian kita untuk menyampaikan suatu kebenaran, walau itu pahit rasanya atau menyakitkan.

Jika tidak ada keberanian, apakah dalam kebersamaan atau kesendirian, maka boleh jadi banyak pihak yang dirugikan. Tentu menyampaikan kebenaran bukanlah suatu yang mudah, sehingga tetap dibutuhkan kesabaran dan sikap bijak, sehingga rasa pahit itu bisa diterima dengan ikhlas. 

Setelah memperhatikan sejumlah kalimat hikmat dan matan hadits, kita bisa semakin lebih berhati-hati dalam mengekspresikan pikiran dan perasaan dalam hati dengan verbal, sehingga perkataan kita produktif dan tidak kontra produktif, bermanfaat dan tidak merugikan, dan menyenangkan dan tidak menyusahkan. Dengan begitu, menjaga perkataan menjadi kebutuhan kita. Kita ingat peribahasa Jawa “Ajining diri sakaLatin,  Ajining raga saka busono” (Berharganya pribadi/diri kita dari ucapan kita, berharganya tubuh kita karena palakaian kita).(*)

Prof Dr Rochmat Wahab

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com