Memastikan Pengelolaan Persekolahan

Home / Kopi TIMES / Memastikan Pengelolaan Persekolahan
Memastikan Pengelolaan Persekolahan Rochmat Wahab adalah mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, pengurus PWNU, Pengurus ICMI, dan Dewan Pakar Psycho Education Centre (PEC)

TIMESBATU, YOGYAKARTA – Kehadiran Covid-19 yang terus menerus membuat hidup kita bergerak tidak menentu. Termasuk di sektor pendidikan, utamanya dalam pengelolaan persekolahan.

Ada yang berkeingan bahwa layanan pendidikan segera dimulai sesuai dengan kalendernya, pertengahan Juli dan awal September. Ada juga berpendapat sebaliknya dimulai Januari dan Pebruari. Ada juga pilihan kebijakan lainnya. Apapun kebijakan yang diambil diharapkan tetap fokusnya untuk memberikan layanan pendidikan yang terbaik.

Kecepatan penyebaran pandemi Covid-19 merupakan karakteristik utamanya. Akibatnya, hampir seluruh dataran jagat raya dapat ditembus. Karena wujud dan penyebarannya tidak kelihatan, maka akibatnya banyak korban kematian yang sulit dihindari. Di samping virusnya sudah bermutasi menjadi empat, juga belum ditemukan vaksin untuk penyenyembuhannya secara meyakinkan membuat kita khawatir, cemas hingga takut yang berkepanjangan.

Demi pencegahan dan penyelamatan, muncullah gagasan untuk pencegahan penyebaran virus dengan Physical and Social Distanging, di samping cuci tangan, pakai masker,  berjemur di pagi hari untuk mendapatkan sinar matahari dan sebagainya. Untuk mewujudkan Physical and Social Distancing, salah satu cara yang efektif, bahwa semua kegiatan dialihkan ke Rumah (Work frim Home, Study from Home, Pray at Home) dengan begitu slogan Stay at Home menjadi sangat penting dan relevan.

Ketika belajar dialihkan tempatnya di rumah, baik untuk pendidikan usia dini, jenjang  pendidikan dasar dan menengah, maupun pendidikan tinggi, dunia IT sudah mengalami kemajuan yang berarti. Ini suatu keberuntungan yang patut disyukuri. Dengan begitu  dalam batas tertentu sejumlah aktivitas pendidikan sudah bisa di-replace dengan sistem Daring. Walau diakui bahwa penyediaan infrastruktur (prasarana dan sarana) masih jauh dari yang ideal.

Dengan kemampuan guru dan Tenaga Kependidikan yang belum sepenuhnya memadai, di samping siswa dan mahasiswanya juga. Belum lagi dikaitkan dengan kondisi geografis yang belum semuanya bisa mengakses jaringan internet dan ketidakmpuan siswa dan mahasiswa untuk memiliki hardware (gadget). Jika diakui secara jujur bahwa cara pembelajaran belumlah bisa tampil optimal. Masih banyak kurangnya terutama di daerah-daerah yang belum maju dan yang ada di resa-desa.

Mengacu kepada apa yang dilaporkan Memdikbud, bahwa sudah sekitar 95 m% sekolah bisa menggunakan pembelajaran daring. Jika benar, itu hanya formalitas. Misalkan di suatu sekolah itu biasanya ada satu rombongan belajar, yang siap mengikuti ujian nasional atau ujian sekolah yang UTBK. Sementara itu di setiap sekolah biasanya ada 5 rombongan anak lainnya di SD-MI, 2 rombongan anak lainnya di SMP-MTs dan 2 rombongan anak lainnya di SMA/SMK-MA.

Ini berarti bahwa lebih banyak anak yang belum tersediakan hardware-nya. Belum lagi anak-anak yang disiapkan di sekolah. Anak-anak yang biasanya mendapat jatah hardware di sekolah belum tentu semuanya memiliki laptop atau gadget di rumqh. Dengan Daring belum tentu efektif, jika semua anak belum bisa mengikuti. Untuk itu anak-anak bisa berpartisipasi belajarnya, maka pemerintah dan mitra perlu membagikan laptop, gadget, Hp atau media lain yang diperlukan.

Kita sangat memaklumi bahwa semester kedua tahun ajaran 2019-2020, kegiatan pembelajaran masih belum berjalan secara fungsional. Karena anak-anak TK/RA, SD-MI sampai dengan SMA-MA atau SMK. Walaupun secara kasuistik, ada sejumlah sekolah/madrasah yang bisa berjalan sangat baik Daringnya. Materi pendidikan sejak awal yang lewat Daring sesuai dengan Edaran Menteri, tidak difokuskan kepada penuntasan materi Kurikulum. Anak-anak cukup diberi materi yang terkait Covid-19. Dengan begitu anak-anak mutlak tidak menuntaskan Kurikulum di tahun berjalan.

Sebelum membuat keputusan final uhtuk kembali belajar lagi, kita tidak bisa mengabaikan pengalaman Perancis, Finlandia dan Korea Selatan. Bahwa program kembali belajar ke sekolah lagi dengan kondisi anak dan masyarakat, serta lingkungan yang belum kondusif sangat berpotensi merugikan anak, karena kemungkinan anak atau guru/dosen atau tenaga kependidikan  terpapar tidak bisa dihindari. Memperhatikan realita yang ada berkenaan dengan terpaparnya anak sebagai akibat dari peniadaan Physical dan Social Distancing, maka program kembali ke sekolah perlu dipertimbangkan lagi dan anak-anak wajib dibelajar dari rumah.

Menyadari akan kondisi Indonesia belakangan ini, pemerintah mengambil kebijakan perlunya New Normal dimulai dengan pertimbangan ekonomi, kesehatan dan sosial. Dengan begitu PSBB perlu dievaluasi dan dilakukan pelonggaran secara bertahap. Kebijakan ini menuai pro dan kontra. Karena kondisi objektifnya bahwa kasus Covid-19 belum menunjukkan penurunan trend yang berarti. Yang sangat dikhawatirkan terjadi serangan penyebaran virus kedua. Jika tidak terkontrol bisa jadi timbulkan bachata dan kerugian yang lebih besar.

Memperhatikan kondisi objetktif dan pengalaman negara lain dalam mengatasi Covid-19, sebaiknya pertimbangan utamanya adalah penyelamatan kesehatan anak, yang dampaknya untuk penyelamatan keluarga dan masyarakat luas. Bahwa kebijakan harus bersifat menyeluruh dan terpadu. Semua kementerian yang bertanggung jawab tentang penyelenggaraan pendidikan, Kemendikbud, Kemenag dan Kemendagri serta Kementerian lainnya, perlu duduk bersama untuk menerapkan awal tahun Ajaran/Akademik.

Apakah tetap atau diundur satu semester. Keduanya ada plus minusnya, mana yang maslahahnya banyak itulah yang diambil, dengan tetap mempertimbangkan aspek lain yang penting. Kecepatan membuat keputusan bersama yang tepat akan bisa menenangkan kehidupan bangsa. Semua transparan dan bisa diterima oleh semua atau lebih banyak stakeholder, sehingga memudahkan implementasinya.

Jika keputusannyq, bahwa Tahun Ajaran/Akademik Baru itu tetap, kemudian apa implikasinya, perlu diupayakan  dan dijaga dengan baik. Jika Tahun Ajaran/Akademik Baru diundur satu semester, maka apa implikasinya perlu dirumuskan dengan baik, utamanya kemaslahatan dan keterbatasannya. Apapun keputusan yang dibuat, perhatian terhadap mutu pendidikan tetap tinggi, sehingga tidak terkesan asal jalan. Apalagi sekedar mengejar formalitas. Asal sudah menggunakan sistem e-learning dan mengejar target. Ingat bahwa misi pendidikan adalah sangat mulia. Jangan sampai layanan pendidikan yang kita upayakan di tengah kesulitan apapun, mengabaikan prinsip-prinsip yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Akhirnya kita sangat menyadari bahwa kita hidup dunia ini sedang dihadapkan masalah serius yang sama, Covid-19. Kemampuan kita semua diuji untuk menghadapi musibah yang berat ini. Proses kehidupan harus tetap berjalan. Tidak boleh terjadi  pengabaian. Utamanya persoalan pendidikan. Pengelolaan pesekolahan yang efektif dan efisien sangat diharapkan. Untuk mendorong semua pihak ikut mensupport pengelolaan persekolahan sangat dibutuhkan kepastian dengan segala konsekuensinya. Hal ini tidak bisa dihadapi dengan secara setengah-setengah, namun harus total dan sistemik.

*****

*) Oleh: Rochmat Wahab adalah mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, pengurus PWNU DIY, Pengurus ICMI, dan Dewan Pakar Psycho Education Centre (PEC).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com