Tausiah di Malang, Ini Pesan KH Zuhri Zaini kepada Alumni Nurul Jadid

Home / Berita / Tausiah di Malang, Ini Pesan KH Zuhri Zaini kepada Alumni Nurul Jadid
Tausiah di Malang, Ini Pesan KH Zuhri Zaini kepada Alumni Nurul Jadid Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH Zuhri Zaini saat memberikan tausiah di UNISMA Malang. (Foto: Naufal Ardiansyah/TIMES Indonesia)

TIMESBATU, MALANG – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH Zuhri Zaini berkesempatan hadir dan memberikan tausiah di UNISMA, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (10/11/2019).

Acara yang digelar oleh Ikatan Mahasiswa Alumni Nurul Jadid (IMAN) Malang Raya itu mengusung tema Bakti Santri dalam Merawat Keutuhan Bangsa dan Negara. Acara juga dihelat untuk menyambut kedatangan mahasiswa baru dan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Kepada ratusan alumni Nurul Jadid yang hadir, Kiai Zuhri menyampaikan beberapa pesan. Salah satunya adalah tentang keikhlasan.

Umat Islam, khususnya alumni Nurul Jadid diharapkan menatat niat dalam melakukan aktivitas di kehidupan sehari-hari. Niat ini maksudnya adalah senantiasa niat untuk ibadah.

KH-Zuhri-Zaini-b.jpg

Niat ini ditata di awal karena, menurut beliau, niat seseorang akan menentukan kinerja dan hasil ke depannya.

Saat itu, beliau menyampaikan secara khusus kepada pengurus IMAN Malang Raya yang baru saja dilantik. Pesannya adalah, pertama harus diniati ibadah. 

"Niati ibadah dan harus ikhlas. Saya harapkan ini didasari rasa ikhlas. Karena ini pengabdian. Insyaallah kalau didasari dengan keikhlasan, selain ada pahalanya, Allah pasti memberikan pertolongan. Ayo mulai belajar ikhlas. Ikhlas itu harus dilatih, harus belajar. Dan ikhlas itu bukan dijadikan alasan untuk asal-asalan atau bermalas-malasan. Itu bisa jadi sebab kenapa kita tertinggal, ya karena kemalasan," jelasnya gamblang.

Selain ikhlas juga profesional. Apalagi bergerak di bidang organisasi yang bekerja bersama tim. Hal ini mendorong semua orang untuk bertindak profesional.

"Kerja kita ini bukan sendiri-sendiri tapi bersama-sama. Artinya bekerja dengan baik. Karena ini organisasi, harus ada kesadaran organisasi. Tidak mungkin bisa mencapai tujuan kalau hanya sendiri. Harus team work atau berjamaah. Sekalipun berjalan bersama itu tidak mudah, karena karakter setiap orang berbeda-beda. Ada yang suka kerja cepat, ada yang suka pelan. Bermacam-macam," ujarnya.

KH-Zuhri-Zaini-c.jpg

Menjadi pribadi muslim juga seharusnya bisa menghormati perbedaan yang melekat kepada setiap manusia. Menghormati orang lain, masih kata Kiai Zuhri, itu luas maknanya. Misalnya menghormati pemikiran dan kepercayaan orang lain, yang mungkin berbeda dengan kita.

"Contoh menutup aurat, tidak wajib pakai jubah. Pakai sarung juga boleh. Beramal itu harus didasari oleh ilmu. Kalau tidak, amal kita bisa sia-sia," jelasnya.

Kiai Zuhri bercerita, ada seorang sufi yang semangat ibadahnya luar biasa. Tapi mungkin dia masih pemula. Dia semangat beribadah, sehingga karena takut sibuk dengan hal lain, dia tidak kawin, khawatir takut disibukkan urusan keluarga.

"Dia kan normal, artinya punya nafsu. Solusinya, dia memelihara kuda. Terus kuda dijadikan istrinya. Nah, ini tidak benar. Kalau begitu ya nikah saja," cerita Kiai Zuhri.

Cerita lain, ada mahasiswa yang belajar komputer. Dia belajar di internet dan cari amalan di internet. Lalu stres dan orang tuanya datang ke Kiai Zuhri.

"Saya tanya, apa mengamalkan amalan? Katanya iya, dari internet. Perlu diketahui, amalan itu seperti obat. Ada amalan yang dosis rendah, ada yang dosis tinggi. Kalau over dosis bisa stres. Amalan harus jelas sumber dan sanadnya. Kalau tidak jangan diamalkan," katanya.

"Kalau kita tidak bisa menggali agama dari sumbernya langsung, kita bisa tanya kepada orang yang mengerti. Sama halnya dokter, sekolahnya lama. Kalau sakit, jangan jadi dokter, jadi pasien dulu," pesan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH Zuhri Zaini di Malang. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com