Kisah Heroik Pemuda Dusun Macari di Hari Pahlawan

Home / Berita / Kisah Heroik Pemuda Dusun Macari di Hari Pahlawan
Kisah Heroik Pemuda Dusun Macari di Hari Pahlawan Warga Dusun Macari selalu berdoa di tugu ini setiap Hari Pahlawan untuk mengenang pejuang yang meninggal dunia dalam pertempuran ditempat ini. (FOTO: Muhammad Dhani Rahman/TIMES Indonesia)

TIMESBATU, BATUKisah heroik pemuda Dusun Macari, Desa Pesanggrahan Kota Batu selalu dalam ingatan generasi muda di Hari Pahlawan

Saat itu tidak banyak yang memiliki bendera, namun Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan maklumat agar mengibarkan bendera Merah Putih serentak di seluruh Nusantara pada 1 September 1945. 

Pasalnya, empat belas hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 negara lain di dunia masih belum ada yang mengakui kedaulatan Indonesia. 

Tidak banyak yang memiliki bendera Merah Putih saat itu, ikat kepala dan pin yang serba merah putih, pokoknya simbol-simbol Republik Indonesia seadanya dikenakan oleh warga. 

Warga-Dusun-Macari.jpg

Bahkan menurut KH Agus Sunyoto, M.Pd  sejarawan asal Wendit Kota Malang, hingga dua bulan proklamasi dikumandangkan oleh Soekarno–Hatta, negara-negara lain di dunia belum ada yang mengakui kedaulatan Negara Indonesia. 

Sehingga pada awal Oktober 1945 Bung Karno mengirimkan utusan untuk menemui Hadratusyeikh KH Hasyim Asy’ari, Rois Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. 

Hasil dari konsultasi, mendorong lahirnya Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh PBNU pada tanggal 22 Oktober 1945. Seruan Sang Kiai yang mewajibkan atas pria–wanita, muda dan dewasa untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia disambut dengan seksama oleh seluruh santri yang berada di Jawa termasuk oleh basis santri di Kota Batu. 

Basis santri di wilayah Batu salah satunya adalah Dusun Macari, Desa Pesanggrahan. Maklum, sejak lama dusun tersebut kondang sebagai Kampung Pesantren yang menurut fakta sejarah sebagai tempat masjid pertama yang didirikan di Kota Batu.

Saat itu penduduk Dusun Macari tidak lebih dari 50 kepala keluarga yang kesemuanya masih satu darah dengan Kiai Macari (Mbah Zakaria pendiri masjid pertama di Kota Batu).  

Warga-Dusun-Macari-b.jpg

"Keterangan Almarhum Abu Bakar yang memberikan kesaksian semasa hidupnya menerangkan bahwa hampir seluruh pemuda Macari terpanggil oleh seruan jihad Kiai Hasyim Asy’ari. Kurang lebih tiga puluhan pemuda dari 50 KK ikut tergabung Pasukan Hizbullah," kata tokoh masyarakat Dusun Macari, Ulul Azmi. 

Padahal saat itu wilayah Batu merupakan daerah pendudukan Belanda. Bahkan di Dusun Macari berdiri Holand Indiche School (HIS) yang pada Agresi Belanda ke II Tahun 1949 dibakar para pemuda. 

Warga Dusun Macari mulai bergabung dengan Pasukan Hizbullah sejak 22 Oktober 1945, mereka menyebar di berbagai daerah untuk mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia.  

Banyak pertempuran yang harus mereka hadapi, bahkan ada dua pemuda Dusun Macari yang gugur di medan laga, tepatnya di Dusun Ngampir Desa Sumbergedang Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan.

"Pejuang yang gugur di sana ada dua orang, Fadelan dan Abdurrahman, jasadnya sudah dipindah ke TMP Suropati," ujarnya. 

Di tempat mereka gugur ini, sejak tahun 1987 telah didirikan tugu bambu runcing sebagai monumen peringatan. 

Kisah heroik pemuda Dusun Macari tersebut selalu dalam ingatan generasi muda di Hari Pahlawan. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com